Belajar dari Tempe


Hari ini aku masak tempe goreng tepung. Di sini harga tempe itu sekitar 2.000 sampai 2.500 won. Kira-kira 20.000 rupiah. Ukuran 15 x10 cm dengan ketebalan sekitar 1.3 cm.

Kemarin juga baru belanja bawang bombay, cabe hijau, jamur, ikan, dan sayuran.

Tempe yang telah aku potong-potong persegi sekitar 1 inchi (2.54 cm) x 1 inchi aku masukkan ke dalam adonan tepung. Setelah minyak panas aku goreng tempe tersebut.

Karena adonan tepung masih ada, sekalian aku masukkan saja jamur. Jadi juga jamur goreng tepung. ^^v

Untuk sayurnya, aku tumis wortel, sawi, dan bumbu-bumbu yang ada.

Nasi pun telah matang.

Alhamdulillah, aku rasakan begitu nikmat.

Ya Allah, tempe goreng saja begitu nikmat. Bagaimana dengan hidangan surga?

Surga itu memang sangat indah. Disajikan berbagai kenikmatan di dalamnya. Aku suka sekali dengan sebuah riwayat mengenai gambaran surga. “Lammaa khalaqallahu jannata ‘Adnn khalaq fiiha maa laa ‘ainun raat walaa udzunun sami’at walaa khatharu ‘alaa qalbi basyarin.” Artinya, “Apa-apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah di dengar oleh telinga, serta tidak pernah terbesit dalam benak manusia.”(*)

Di antara cara masuk surga adalah dengan senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.

Sebagaimana Allah SWT firmankan di dalam surat Ibrahim ayat 7, “La in syakartum la azidannakum.” Artinya, “Jika kalian bersyukur maka akan Allah tambah nikmat dari-Nya.”

Jika kita terus dan terus bersyukur, maka Allah SWT akan terus tambahkan nikmat-Nya, hingga nikmat di surga nanti, nikmat bertemu Rasulullah saw dan orang-orang shalih, serta nikmat memandang wajah Allah SWT.

Syukur kehadirat Allah SWT atas kenikmatan tempe goreng yang dapat kita rasakan. Tempe pun memberikan berbagai pelajaran kepada kita mengenai sebuah proses.

Allah SWT mengajarkan kepada kita tentang sebuah proses melalui tempe.

Tempe yang kita makan telah melalui berbagai macam proses yang panjang.

Dari kacang kedelai kemudian diberi ragi. Kacang kedelai dan ragi pun melalui proses yang panjang.

Keberadaan kita saat ini pun juga melalui proses yang panjang. Proses tersebut berjalan dari Nabi Adam as.

Nabi Adam as memiliki keturunan, keturunannya memiliki keturunan, dan seterusnya hingga lahirlah kita.

Ketika kita menggunakan laptop atau HP kita, mungkin kita lupa, proses produksi barang elektronik tersebut melibatkan berbagai komponen dan multidisiplin ilmu. Mungkin kita lupa, JJ Thomson, Niels Bohr, Ernest Rutherford, dan James Chadwick juga berperan dalam proses tersebut sebagai penggagas dan pengembang teori-teori atom. Bahkan hingga ke Isaac Newton, Al Khawarizwi, Democritus, dan seterusnya. Semua itu proses yang panjang dan haruslah kita bersyukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang kita terima, terutama nikmat yang paling berharga, yaitu nikmat Iman dan nikmat Islam.

31 kali dalam surat Ar Rahman Allah SWT menyebutkan, “Fabiayyi alaa irabbikuma tukadz dzibaan.” Artinya, “Nikmat Rabbmu mana lagi yang hendak kalian dustakan?”

Memang, terlalu banyak nikmat yang kita dustakan. 😦

Allahummaj’alna minasy syakirin ,,, Ya Allah, jadikanlah kami golongan orang-orang yang bersyukur ,, #ntms

Catatan kaki:

* Di dalam kitab Al Ausath dan Al Kabir oleh Thabrani, dalam kitab Al Muktharah oleh Adh Dhiyaa’, dalam kitab Al Fawa’id oleh Tammam Ar Razi, dan dalam kitab Tarikh Dimasyq oleh Ibnu Asakir, dengan jalur sanad dari Hisyam bin Khalid, “Telah memberitakan kepada kami Buqyah, dari Ibnu Juraij, dari Atha’, dari Ibnu Abbas ra secara marfu’. Redaksinya yaitu, “Lammaa khalaqallahu jannata ‘Adnn khalaq fiiha maa laa ‘ainun raat walaa udzunun sami’at walaa khatharu ‘alaa qalbi basyarin, tsumma qaalaa lahaa: Takallamii faqaalat: Qad aflaha al mu’minum.” Artinya, “Ketika Allah SWT menciptakan surga ‘Adn, ia menciptakan pula di dalamnya apa-apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah di dengar oleh telinga, serta tidak pernah terbesit dalam benak manusia, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Berbicaralah!’ Maka surga itu berbicara, ‘Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.'” Riwayat ini dhaif disebabkan oleh periwayatan secara ‘an’anah oleh Buqyah. Dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, “Periwayatan Buqyah dari para perawi hijaz adalah dhaif.” Buqyah adalah figur yang baik. Namun, aibnya adalah suka mencampuradukkan perawi dhaif yang tidak diterima periwayatannya. Karenanya, apabila ia dengan tegas mengatakan telah mendengar atau menerima hadits dari tangan seseorang yang merupakan perawi akurat, kemudian diberitakannya kepada perawi yang di bawahnya yang juga akurat, maka riwayat tersebut dapat dijadikan hujah. Namun, bila tidak maka tidak dapat dijadikan hujah. (Silsilah hadits dha’if dan maudhu’, Volume 3 , Muḥammad Nasiruddin Al Albani halaman 635)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s