Ahsani Taqwim – The Best Stature


“Laqad khalaqnal insaana fi ahsani taqwim.”

“Surely We created man of the best stature.”

“Sesungguhnya kami ciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.”

QS At Tin : 4

Selepas shalat Ashar teman saya mendekati. Ia bertanya, “Kenapa Allah SWT tidak menciptakan kulit ini dari baja sehingga tahan terhadap panas dan tidak mudah terluka?”

Pertanyaan sederhana yang mungkin saja terlintas ketika kulit kita tersayat pisau dan sebagainya. Mungkin dengan demikian kita menyadari bahwa kita ini begitu lemah. Tapi mengapa Allah SWT menyebut kita dengan “ahasani taqwim” – “the best stature” – “bentuk sebaik-baiknya”?

Unik memang. Kita sering lupa bahwa “Allahu ya’alamu wa antum la ta’lamun …” – “Allah yang mengetaui sedangkan kita tidak mengetahui …” QS Ali Imran : 66

Jika kulit kita terbuat dari logam yang keras, bagaimana kita merasakan kelembutan akan cinta dan kasih sayang saat kita saat mengecup tangan orang tua kita, menyentuh jemari-jemari istri kita, saat membelai rambut anak-anak kita? Sebuah renungan sederhana yang menyimpan berbagai hikmah.

Kesempurnaan manusia juga dilengkapi dengan berbagai komponen penyusun tubuhnya yang begitu luar biasa. MasyaAllah.

Sering kita melihat ketika terluka, banyak orang yang dengan reflek menjilat lukanya ataupun mengisap luka tersebut dengan mulutnya. Mungkin bagi sebagian orang hal tersebut terlihat ‘jorok’ atau ‘kotor’. Atau juga ada yang beranggapan bahwa hal tersebut useless.

Secara ilmiah, peneliti menemukan bahwa ludah manusia mengandung protein yang disebut histatins. Dalam jurnal ilmiah The Journal of the Federation of american Societies for Experimental biology yang berjudul Histatins are the major wound-closure stimulating factors in human saliva as identified in a cell culture assay, Menno J. Oudhoff dan rekan-rekan peneliti lainnya dari Department of Oral biochemistry, University of Amsterdam, menyatakan bahwa luka di rongga mulut sembuh jauh lebih cepat dari luka pada kulit. Mereka mengidentifikasi keberadaan histatin pada ludah manusia sebagai faktor utama dalam proses penyembuhan tersebut.

Mungkin ketika membaca tulisan ini kita langsung teringat dengan kisah Rasulullah saw mengobati luka Abu Bakar ra. Jika ludah ‘biasa’ saja memiliki kemampuan luar biasa seperti itu, apalagi ludah sang manusia mulia Rasulullah saw.

Alhamdulillah … Tsumma Alhamdulillah …

Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadz dzibaan …

Memang, terlalu banyak nikmat yang kita dustakan. 😦

Allahummaj ‘alni minasy syakiriin …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s