Catatan Muslimpreneur – Kredit?


Selain membaca dan menulis, aku suka juga dengan yang namanya jualan. Istilah yang lagi keren dipakai untuk tukang jualan sekarang itu entrepreneur. Nah, kalau muslimpreneur itu berarti seorang muslim yang enterpreneur.

Kata wikipedia, entrepreneur itu:

is an enterprising individual who builds capital through risk and/or initiative.

Atau,

person who is willing to help launch a new venture or enterprise and accept full responsibility for the outcome.

Nah, bisa disimpulkan sekarang kaitan jualan dengan entrepreneur. ^^b

Membangun sebuah bisnis, pada dasarnya ya jualan juga khan ya? Misalnya, SAMSUNG. Ya SAMSUNG itu jualan Galaxy. Iya khan? 🙂 Jualan itu bisa bentuk barang atau jasa. Cukur rambut itu jualan jasa. Tetangga aku satu RT itu bisnisnya cukur rambut. Di kota Depok, dia sudah membuka lebih dari 10 cabang kios cukur rambut. Dia bisa dibilang sebagai entrepreneur juga.

Nah, bagaimana dengan aku?

Aku sendiri memiliki pengalaman jualan pertama kali sewaktu SMA-Pesantren dengan bergabung di koperasi. Setiap hari ahad belanja kebutuhan koperasi di pasar dan kemudian bergilir untuk jaga dagangan koperasi yang terletak di asrama.

Kemudian sewaktu kuliah aku mencoba jualan jasa, yaitu web developing/designing.

Setelah lulus kuliah aku bersama teman seperjuangan berjualan kaos. Selain itu aku juga pernah belajar jualan makanan seperti pisang cokelat, gorengan (tahu pedas), hingga lontong sayur. Memang banyak pelajaran serta hikmah dalam perjalanan bisnis ini, misalnya masalah pembagian keuntungan dan menggaji karyawan.

Dalam berbisnis, aku selalu teringat pesan Amirul Mu’minin Umar bin Khattab ra yang sangat masyhur,

“Janganlah berdagang di pasar kami, kecuali orang faqîh, (mengerti tentang jual beli), jika tidak maka dia makan riba.”

Jadi, dalam setiap keputusan dalam bisnis aku mencari dulu ilmu-ilmunya, misalnya tentang dua hal di atas tadi, yaitu pembagian keuntungan dan menggaji karyawan.

Dalam membagi keuntungan tidak boleh diambil dari presentase modal. Misalnya, si A modalnya 100.000, maka keuntungannya A misalnya 10% dari 100.000. Itu riba. Yang halal adalah bagi hasil dari total profit. Misalnya total profit 500.000, maka si A mendapat 10% dari profit.

Kemudian tentang menggaji karyawan. Aku teringat pesan Rasulullah saw,

“Berikanlah upah kepada orang yang bekerja sebelum kering keringatnya.” HR Ibnu Majah

MasyaAllah, betapa indah ajaran Islam. Saat itu aku dan teman saat menjalankan bisnis, memiliki seorang karyawan. Dalam mengamalkan hadits tersebut, kami memberikan kepadanya gaji di awal sebelum dia bekerja. Jika belum ada uang untuk menggaji secara penuh karyawan di awal, mensiasatinya bisa dengan memberikan gaji untuk per satu minggu atau 3 hari misalnya.

Nah, berhubung saat ini aku sedang menjalani bisnis jualan sistem kredit, maka pada posting kali ini aku coba menyampaikan sedikit catatan, sehingga dalam berbisnis kita mengetahui ilmunya.

Bisnis yang aku jalankan ini memberi cicilan dalam penjualan (kredit). Harga jual cash lebih murah dari harga jual kredit. Bolehkah mengambil nilai lebih dari penjualan kredit? Apakah riba?

Dalam buku Halal dan Haram, Syekh Yusuf Qardhawi dalam menjawab masalah “Menjual Kredit dengan Menaikkan Harga” menyebutkan,

Termasuk yang perlu untuk disebutkan di sini, yaitu sebagaimana diperkenankan seorang muslim membeli secara kontan, maka begitu juga dia diperkenankan menangguhkan pembayarannya itu sampai pada batas tertentu, sesuai dengan perjanjian.

Rasulullah saw sendiri pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo, untuk nafkah keluarganya. Begitu juga beliau pernah menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi.

Sekarang apabila si penjual itu menaikkan harga karena temponya, sebagaimana yang kini biasa dilakukan oleh para pedagang yang menjual dengan kredit, maka sementara fuqaha ada yang mengharamkannya dengan dasar, bahwa tambahan harga itu justru berhubung masalah waktu. Kalau begitu sama dengan riba. Tetapi jumhurul ulama membolehkan, karena pada asalnya boleh, dan naskh yang mengharamkannya tidak ada; dan tidak bisa dipersamakan dengan riba dari segi manapun. Oleh karena itu seorang pedagang boleh menaikkan harga menurut yang pantas, selama tidak sampai kepada batas pemerkosaan dan kezaliman. Kalau sampai terjadi demikian, maka jelas hukumnya haram. Imam Syaukani berkata, “Ulama Syafi’iyah, Hanafiyah, Zaid bin Ali, al-Muayyid billah dan Jumhur berpendapat boleh berdasar umumnya dalil yang menetapkan boleh. Dan inilah yang kiranya lebih tepat.”

Departeman Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Negara Saudi Arabia (Ar Riasah Al’amah Li Idaratil Buhuts Al Ilmiyah Wal Ifta) menyatakan,

“Apabila orang yang menjual mobil atau sejenisnya sampai tempo tertentu dengan harga tertentu atau waktu tertentu dengan angsuran tertentu yang pemberi kredit tidak melewati batas yang telah ditentukan dari harganya, maka tidak mengapa. Namun bila kredit yang telah terfahami dari pertanyaan bertambah dengan keterlambatan pembayaran angsuran dari waktu yang disepakati dengan nilai tertentu, maka itu tidak boleh dengan ijma kaum muslimin, karena itu sama dengan riba jahiliyah.”

Departemen Wakaf dan urusan Islam di Kuwait (Al Hai’at Al Amah Lil fatwa Bi Wizarat Al Auqaaf Wal Syu’un Al Islamiyah Bil Kuwait) mengatakan,

“Tidak apa-apa harga jual kredit lebih tinggi dari harga jual cash (kontan) dan penjual boleh mencari keuntungan yang ia inginkan dengan cara hitungan ekonomi.”

Selanjutnya, jumhur fuqaha seperti ulama mazhab yang empat (Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, Hanabilah) membolehkan jual beli kredit, meski penjual menjual barang dengan harga kredit yang lebih mahal daripada harga kontan. Inilah pendapat yang kuat (rajih). (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Mu’amalah Al-Maliyah Al-Muashirah, hal. 316, Asy-Syaukani, Nailul Authar, 8/199; An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, 2/307). – Senada dengan yang terdapat pada buku Halal dan Haram Syekh Yusuf Qardhawi

Di samping itu juga ada ulama-ulama yang berbeda pendapat, seperti Ibnu Sirin, Simak bin Harb, Ats-Tsauri, Ibnu Qutaibah, An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan yang lainnya. Adapun dalil yang digunakan diantaranya,

Mengenai penjualan kredit dengan penambahan harga, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengatakan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah V/419-427,

“Barangsiapa menjual dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan, maka baginya harga yang paling sedikit. Kalau tidak mau, maka harga yang lebih tinggi adalah riba.” HR Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf (VI/120/502), Abu Daud dari Ibnu Abi Syaibah (no. 3461), Ibnu Hibban di dalam Shahihnya (1110), Al-Hakim (II/45), dan Al-Baihaqi (V/343) kesemuanya meriwayatkan bahwaa telah becerita kepada kami Ibnu Abi Zaidah dari Muhammad bin Amir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah secara marfu, sanadnya hasan, bahkan telah dishahihkan oleh Al-Hakim, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu Hazm di dalam Al-Muhalla (IX/16). Juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i (VII/296), At-Tirmidzi (I/232), dia menshahihkannya, Ibnul Jarud (286), Ibnu Hibban (1109), Al-Baghawi di dalam “Syarh As-Sunnah (VIII/142/211)”, ia juga menshahihkannya, Ahmad (II/342, 375, 503) dan Al-Baihaqi dari beberapa jalan dari Muhammad bin Amr dengan lafazh, “Beliau melarang dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan.”

Kesimpulannya? Jadi, ada dua pendapat, tafadhal 🙂 Next time kita sharing-sharing lagi ya ^^

Sumber rujukan:

  1. http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Halal/402121.html#4.2.12.4
  2. http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-tanya-ustadz/bolehkah-saya-menjual-barang-secara-kredit/
  3. http://konsultasi.wordpress.com/2009/02/02/hukum-jual-beli-kredit-cicilan-dan-uang-muka-dp/
  4. http://jacksite.wordpress.com/2007/10/26/jual-beli-kredit-dengan-penambahan-harga-halal-atau-haram-dalam-islam/
  5. http://jacksite.wordpress.com/2007/06/19/hukum-jual-beli-kredit-dalam-islam/
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s