Hadiah Ramadhan: Buku Pertamaku


Aku mulai senang membaca dan menulis sejak SMA (pesantren). Saat itu aku tergabung dalam FLP Kabupaten Sukabumi sebagai anggota. Di SMA pula aku mendapat amanah sebagai ketua majalah dinding dan buletin sekolah, MelBa, namanya, Media Albayan.

Di SMA banyak sekali teman-teman yang memiliki kemampuan menulis sebut saja teman seangkatan aku, Miftah Arief, kemudian kakak-kakak kelasku seperti Muhammad Adib dan Ahmad Fuady. Selain ketiga nama tersebut, banyak juga teman-temanku yang memiliki kemampuan menulis, seperti Ali Fahrurrozie, adik kelasku. Paling tidak menurutku, empat nama tersebut sangat menonjol saat aku mendapat amanah sebagai ketua majalah dinding dan buletin sekolah. Dari empat teman itu, sejauh yang aku tahu baru Ahmad Fuady yang telah menerbitkan buku, judulnya Negeri Sukun, sebuah kumpulan tulisan penuh hikmah yang dirangkai dalam cerita yang sangat dekat dengan kehidupan kita.

Saat SMA pula aku pernah meraih juara pertama English Composition, perlombaan resensi film se-Kabupaten Sukabumi. Memang, prestasi santri atau siswa juga tidak lepas dari andil ustadz atau guru hebat. Untuk bidang sastra ini, SMA-ku memiliki ustadz-ustadzah hebat. Ust. Dikdik yang menguasai bahasa Inggris dan Arab, Ustd. Rani yang menguasai bahasa Inggris, Prancis, dan China, serta tidak ketinggalan Ust. Hadi yang sangat menguasai bahasa dan sastra Indonesia. SMA-ku memang sering menjuarai berbagai perlombaan, bahkan sering mendapat medali dalam Olimpiade Sains Nasional

Bagiku, membaca dan menulis itu, “Unlocking knowledge and empowering minds.” Membaca dan menulis adalah tradisi Islam. Sebut saja Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani yang menulis kitab Fatul Barii. Setahu aku terjemahan bahasa Indonesia kitab Fatul Barii itu jika seluruh jilidnya dijajarkan, ketebalannya sekitar 2 meter. Belum lagi Imam Nawawi, ulama yang terkenal dengan kitab 40 hadits (arba’in hadits). Konon, Imam Nawawi setiap hari menulis sekitar 40 halaman. AllahuAkbar!

Jika kita berkaca pada sirah, surat yang pertama turun adalah surat Al Alaq (Iqra). Sedangkan surat yang kedua turun adalah Al Qalam (Pena). Sebuah sequence yang sangat luar biasa. Membaca dan menulis.

Kegemaranku membaca dan menulis membawaku kepada dunia yang berbeda. Aku jadi sering menulis note di Facebook atau juga mengirimkan kebeberapa media online seperti Dakwatuna dan Fimadani.

Every Writer Gets Rejected!

Beberapa bulan lalu, adikku yang paling kecil mengikuti workshop menulis Bunda Helvi Tiana Rosa. Sesampainya di rumah, ia menceritakan workshop tersebut. Ia menceritakan pengalaman Bunda Helvi saat mengirimkan naskah pertama kali. Bunda Helvi yang seolah ‘dipandang sebelah mata’ oleh salah satu penerbit. You know, naskah yang Bunda Helvi bawa saat itu adalah Ketika Mas Gagah Pergi.

Pada workshop tersebut Bunda Helvi juga menyemangati audience dengan kalimat, “Satu buku sebelum mati!” Amazing! 대박!

Yup, “Every Writer Gets Rejected!” Sebuah pepatah yang sangat membangun semangat untuk menuangkan karya dalam sebuah tulisan.

Ahmad Fuady, penulis buku Negeri Sukun, pernah bercerita tentang pengalamannya mengirim naskah. Ia sering mengirimkan naskah ke harian nasional. Dan, sering juga naskahnya ‘dikembalikan.’

Mengikuti jejak langkah para penulis, aku pun sama. Aku juga beberapa kali mencoba mengirimkan naskah ke harian nasional, bahkan internasional pernah aku coba. “Dikembalikan” juga. 🙂 Tetapi ya memang demikian, ada hikmahnya. Jangan menyerah!

*OOT: Tapi ada bedanya. Kalau yang nasional sering tidak memberi kabar jika naskah kita “dikembalikan”. Tapi kalau yang internasional, ketika dikembalikan pun mereka memberikan apresiasi. Pengalaman aku saat itu, aku mendapat semacam sertifikat kecil ucapan terima kasih. Husnudzan saja, mungkin mereka sibuk jadi tidak sempat memberi kabar. Sabar dan husnudzan, hati tenang, berpahala. ^^

Buku Pertamaku

Sebenernya jika disebut buku pertama juga kurang tepat karena sebelumnya aku sudah menulis 2 buah buku. Namun, buku-buku tersebut hanya diterbitkan sendiri untuk kalangan terbatas dan dengan dana seadanya. Bahasa kerennya, self-publishing. Buku pertama yang aku tulis adalah buku teks bidang studi Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Kelas 7. Adapun buku kedua adalah Tutorial Adobe Photoshop. Nah, buku ketiga yang aku tulis alias buku pertama yang telah terbit di bawah penerbit Elex Media Komputindo dan sudah ada di toko buku Gramedia di kota kamu, juga tidak jauh-jauh, masih berkaitan dengan komputer. Judulnya adalah Belajar Mudah Microsoft Word 2010. Alhamdulillah sudah ada di toko buku Gramedia 🙂

FB_IMG_1437488653004

Mungkin ada yang bertanya, “Kamu khan suka nulisnya tentang keagamaan gitu, kenapa nulisnya naskah komputer semua?”

Atau juga ada yang berkata, “Ye elah, kirain buku apa, cuma buku tentang Word doank!”

Atau mungkin banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya. Aku akan coba menjawab pertanyaan pertama tadi, “Aku juga sedang mempersiapkan berbagai naskah lainnya, tidak hanya naskah keagamaan. Jika Allah berkehendak buku itu terbit, maka niscaya akan terbit. Jika Allah tidak berkehendak buku itu terbit, semoga masih dapat aku share melalui note di FB atau di blog-ku.”

Untuk pertanyaan kedua, “Pikiran seperti itu mungkin saja muncul. Namun, ada beberapa hal yang perlu kita telaah. Pertama, dari sisi pembaca. Jangan menyamakan semua pembaca seperti itu. Maksudnya seperti ini. Mungkin ada orang yang tidak suka memasak, jelas buku-buku tentang masak bisa jadi dia acuhkan. Atau bahkan ada yang beranggapan beranggapan buku-buku masak itu tidak penting. Dia boleh jadi berpikir sudah banyak yang bisa masak, bisa bertanya ke orang lain. Ngapain ada buku-buku masak segala? Sederhana saja, setiap manusia ada masanya, yang hidup akan mati dan akan lahir generasi baru. Setiap manusia juga memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Jadi, mari kita open-minded.”

“Kedua, dari sisi penulis. Kita dapat mulai menulis dari hal-hal yang kita senangi dan kita pahami. Aku senang dengan berbagai disiplin ilmu; dari komputer, sains, dan keagamaan. Misalnya salah seorang sahabat saya, Fu dan suaminya. Mereka menyenangi dan memahami berbagai hal. Tercatat mereka berdua sudah menerbitkan lebih dari 3 buah buku dengan kategori yang berbeda-beda pada usianya yang masih belia. Jadi, as long as buku itu bermanfaat menurut hemat aku sah-sah saja.”

Proses Penulisan

Saat aku lagi main ke Kaskus, aku menemukan sebuah thread yang dibuat oleh IslandScript. Pada thread itu IslandScript memperkenalkan diri sebagai sebuah badan usaha yang meng-assist para penulis. Jadi, tugas penulis cukup menulis saja, sisanya adalah urusan IslandScript hingga akhir penerbitan. Saat itu aku berpikir untuk mencoba melamar sebagai penulis. Syaratnya cukup mudah. Cukup mengirimkan biodata dan contoh tulisan.

IslandScript sendiri sering mengadakan berbagai workshop menulis. Selain itu, IslandScript juga memiliki channel yang bagus ke banyak penerbit. Bahkan, sering kali banyak ide naskah yang sudah tersedia, sehingga penulis hanya perlu mengeksplorasi lebih jauh ide tersebut.

Waktu penulisan buku tersebut memakan waktu kurang lebih 2 bulan. Terhitung dari akhir Januari 2012 sampai aku submit seluruh naskah pada awal April 2012. Buku tersebut selesai dicetak dan dirilis awal Juli 2012.

Kadang kita berpikir bagaimana para penulis-penulis itu produktif. Sejauh pengalaman aku, sebenarnya cukup luangkan waktu 1 jam saja setiap harinya. InsyaAllah dalam 2 atau 3 bulan bisa menghasilkan 1 buah naskah. Memang tidak mudah untuk memulai. (Begitu pun dalam menghafal Al Quran. 1 hari 1 ayat. InsyaAllah lama-lama akan terkumpul sekian surat dan sekian juz. Ya, memang tidak mudah untuk memulai.)

Nah, intinya, IslandScript ini membantu aku dalam proses penulisan. Terlebih bagi kita yang memiliki banyak aktivitas lainnya, keberadaan IslandScript ini sangat membantu. Tentunya penulis dan IslandScript memiliki juga perjanjian kerja sama. Win win solution.

Orientasi

Dunia ini terus berputar. Terus berjalan. Bahkan saat kita diam pun, dunia ini terus berjalan, darah kita terus mengalir, dan sel-sel kita tumbuh berganti. Kita diam pun kita juga akan mati. Alangkah sayangnya jika kita tidak berbuat banyak. Ya, tidak harus selalu dengan menulis. Banyak hal yang bisa kita lakukan. Prinsip kita sebagaimana pesan Rasulullah saw dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Thabrani, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain.”

Alangkah sayangnya jika menulis hanya untuk mendapat banyak “like”, “gengsi”, jadi merasa “keren”, “terkenal”, atau memiliki “banyak follower“. Mari kita berbagi manfaat untuk sesama dalam kebaikan apapun.

PS:

  1. Tulisan ini bukan untuk menggurui. Yang membaca tulisan ini pun orang-orang hebat dan sudah menerbitkan buku dan banyak tulisan. Tulisan ini hanya sedikit pengalaman dari aku sebagai manusia dhaif yang ingin berbagi. Mohon maaf atas segala khilaf. Terus berkarya! Terus tebarkan manfaat!
  2. Untuk renungan juga. Kita jangan euforia. Jikalau sedih, sewajarnya saja. Jikalau bahagia, sewajarnya saja. Saat proses penerbitan buku ini pun aku berusaha demikian. Even saat penerbit mengatakan siap untuk naik cetak dan meminta kata pengantar, aku berusaha tenang. Bisa saja Allah berkehendak lain, misalnya buku tersebut tidak jadi naik cetak. Allah memiliki rencana yang indah. Jika sesuatu itu luput dan kita bersabar, insyaAllah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik, jika tidak di dunia, insyaAllah di akhirat. Dan, jika sesuatu itu berhasil kita raih serta kita bersyukur, tentu Allah akan melipatgandakan nikmat-Nya. Tugas kita cukup ikhtiar dan tawakal. Bersabar dan bersyukur. 🙂
  3. Terima kasih untuk dukungan dan doa dari keluarga aku yang aku sayangi, saudara-saudara seiman, untuk teman sekamarku yang rela laptopnya dipinjam untuk beberapa waktu, untuk kakak kelasku yang membantu pengadaan laptop murah meriah sehingga akhirnya aku dapat memiliki laptop, dan semua pihak yang tidak dapat aku sebutkan satu per satu. Jazakumullah khairan. On top of all, let me dedicate my most sincere gratitude to Allah SWT, the Most Gracious and the Most Merciful who provides me His light and guidance throughout my life till this second.
  4. Seandainya Allah berkehendak menjadikan kebaikan atas setiap huruf yang aku tulis, maka kebaikan itu pertama-tama akan menjadi hak orang tua dan guru-guruku. Barakallahu fikum.

Selamat menunaikan ibadah puasa 🙂

Saudaramu yang mencintaimu karena-Nya,

Muhammad Hilmy Alfaruqi

Advertisements

2 thoughts on “Hadiah Ramadhan: Buku Pertamaku

  1. Pingback: TAWAKAL: Kumpulan Cerita Hikmah – Bijak | bijak.net | inspirasi.me

  2. Pingback: TAWAKAL: Kumpulan Cerita Hikmah – Bijak | bijak.net | inspirasi.me … | bijak.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s