Anugerah Terindah


“Syahru ramadhan alladzi unzila fihi al quran hudan lin naas wa bayyinatin minal huda wal furqan …” QS Al Baqarah : 185

Ketika seseorang mengatakan “Ramadhan”, apakah yang pertama kali terlintas di benak kita? Hampir semua mengatakan bahwa yang pertama kali terlintas ketika mendengar “Ramadhan” adalah puasa.

Apakah demikian yang Allah SWT inginkan?

Puasa merupakan ibadah yang sejak dahulu sudah diberikan kepada orang-orang sebelum kita. Ummat Nabi Musa as dan Isa as pun berpuasa. Dan, memang di bulan Ramadhan ini Allah SWT kita pun yang mampu diwajibkan untuk berpuasa. Namun, ada satu hal yang sangat unik dalam ayat yang Allah SWT sampaikan mengenai Ramadhan. Setelah Allah SWT menyebut “Ramadhan”, Allah SWT melanjutkan dengan “unzila fihi al quran”. Artinya, “Padanya turun Al Quran.”

Ramadhan adalah bulan saat Al Quran diturunkan. Ramadhan adalah momen yang Allah SWT sediakan bagi kita untuk bersyukur atas Al Quran. Allah SWT lanjutkan, “hudan lin naas wa bayyinatin minal huda wal furqan.” Artinya, “Petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan dari pentunjuk tersebut serta pembeda antara yang haq dan yang batil.”

Banyak dari kita tidak memahami Al Quran sebagai sebuah “huda”, sebagai sebuah “petunjuk”. Contoh sederhananya, ketika kita dirundung masalah, kemanakah kita pertama kali berkonsultasi? Apakah kita posisikan Allah SWT pada tempat pertama atau terakhir?

Ada dua orang yang dipecat dari sebuah perusahaan. Orang pertama langsung panik. Sedih. Stres. Dia segera kontak kerabatnya, saudaranya, dan mencari lowongan pekerjaan. Setelah semua dia lakukan dan tak kunjung ada jawaban, barulah dia ke masjid, membaca Quran, dan memohon kepada Allah SWT. Adapun orang kedua, dia juga sedih, namun kemudian dia segera konsultasi kepada Allah SWT. Dia mengatakan, “Innalillahi wa inna ilahi rajiun. Alhamdulillah ya Rabb, hamba baru saja kehilangan pekerjaan tapi tidak kehilangan Islam dan iman hamba.” Kemudian dia sedekah. Setelah itu dia ikhtiar dengan menghubungi kerabatnya, saudaranya, dan mencari pekerjaan lain.

Di dalam ayat awal surat Al Baqarah, Allah SWT katakan, “dzalikal kitabu laa rayba fihi hudan lil muttaqin.” Artinya, “Itulah kitab yang tiada keraguan di dalamnya. Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” Allah SWT tidak menggunakan “al ladzina amanu” melainkan menggunakan kata “al muttaqin”. Dua frase tersebut di dalam bahasa Indonesia memang memiliki arti sama, yaitu orang-orang yang bertaqwa. Namun, jika kita melihat lebih dalam, “al ladzina amanu” merupakan kata kerja yang bermakna “orang-orang yang menyatakan diri bertaqwa.” Dalam pemahaman lebih jauh, kata kerja (verb) merupakan sesuatu yang berubah-ubah seiring perubahan waktu, seperti kata kerja lampau (past), saat ini (present), atau yang akan datang (future). Sedangkan “al muttaqin” merupakan kata benda (noun), yang mana kata benda tidak akan berubah seiring dengan perubahan waktu. Dia stabil. Kokoh. Istiqamah. Sehingga jelaslah bahwa hanya orang-orang yang istiqamah dalam ketaqwaan mereka lah yang sangat bersyukur dan menjadikan Al Quran sebagai petunjuk dalam kehidupan.

Al Quran merupakan sebuah petunjuk yang sempurna. Segala sisi kehidupan kita dijelaskan di dalam Al Quran. Pentunjuk tersebut bukanlah sesuatu yang abstrak melainkan sesuatu yang jelas (mubin). Petunjuk dari masalah rumah tangga hingga pemerintahan bernegara semua terdapat di dalam Al Quran.

Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Hakim dan Ibnu Hibban, “Sesungguhnya, ikatan Islam akan terurai satu demi satu. Setiap kali ikatan Islam terurai, orang-orang pun bergantung kepada ikatan berikutnya. Ikatan pertama adalah menegakkan hukum, sedangkan ikatan yang terakhir adalah shalat.”

Dapatlah kita renungkan, ikatan pertama yang terlepas adalah hukum. Bahkan negara tempat di mana Ka’bah berada pun menggunakan sistem kerajaan, bukan kekhalifahan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Setelah kekhalifaan Ali bin Abi Thalib ra sebagai khalifah ke-empat berakhir, pemerintahan Islam berubah menjadi Daulah Bani Ummayah, bukan lagi Daulah Islamiyah. Hingga akhirnya muncul seorang sosok bernama Umar bin Abdul Aziz yang mengembalikan sistem kekhalifahan. Sehingga Umar bin Abdul Aziz pun dikenal sebagai khalifah ke-lima.

Sudah seharusnya seorang muslim tidak ada keraguan sedikitpun dengan tegaknya syariat Islam, dengan tegaknya khilafah, dengan tegaknya Al Quran, dengan tegaknya hukum Allah SWT.

Imam Syahid Hasan Al Banna mengingatkan kita, “Selama Daulah ini tidak tegak, maka semua umat Islam berdosa dan bertanggungjawab di hadapan Allah, mengapa mereka sampai lalai memperjuangkannya dan bersikap acuh tak acuh dalam penegakannya. Sungguh sebuah kedurhakaan terhadap nilai kemanusiaan bahwa dalam situasi yang membingungkan ini justru tegak suatu negara yang mengokohkan sistem nilai zhalim yang mempropagandakan seruan palsu, sementara tidak seorangpun mau berjuang untuk menegakkan negara yang haq, adil dan damai.”

Dan ikatan terakhir adalah shalat. Jika kita meresapi, bagian terpanjang dari shalat adalah qiyam, saat kita berdiri. Yang kita baca saat qiyam adalah Al Quran. Allah SWT menjadikan shalat sebagai sebuah momen bagi kita untuk terikat dengan Al Quran dan tetap terikat dengan Islam. Jika sudah tidak shalat, lepaslah seluruh ikatan Islam. Na’udzubillah.

Aku ingin menutup tulisan ini dengan perkataan Ibnul Qayyim Al Jauziyyah. Beliau berwasiat kepada kita, “Jika kamu ingin tahu seberapa besar cinta Allah padamu, maka lihatlah cintamu kepada Al Qur’an di hatimu.”

Semoga Allah SWT memberkahi kita dan keluarga kita sebagai ahlul Quran sehingga Al Quran akan datang memberi syafaat kepada kita di hari kiamat.

Bagiku, Al Quran adalah salah satu anugerah terindah dalam hidupku. Bagaimana denganmu, wahai Sahabatku yang kucintai karena Allah SWT?